Berdasarkan video pembelajaran matematika kelas 5 Sekolah Dasar di Jepang yang saya lihat ketika perkuliahan matematika bersama Bapak Marsigit pada 28 Maret 2013 yang dapat saya pahami dalam pembelajaran matematika tersebut sebelum pembelajaran dimulai dilakukan apersepsi terlebih dahulu oleh guru. Apersepsi di sini bertujuan untuk menggali sejauh mana siswa memahami materi yang akan dipelajari oleh siswanya. Di sana dalam satu kelas terdiri dari 2 orang guru. Setelah apersepsi, guru sedikit memberikan pengantar pelajaran bagi siswa (pada video tersebut membahas mata pelajaran matematika mengenai luas bangun datar trapesium). Setelah itu guru membagi siswanya menjadi beberapa kelompok kecil dan memberi LKS sebagai bahan diskusi. Siswa menemukan sendiri cara penyelesaian pemecahan masalah tersebut secara berkelompok dengan berdiskusi dengan teman satu kelompoknya dan didampingi oleh guru yang mengarahkan dalam masing-masing kelompok kecil tersebut. Hasil diskusinya disampaikan di depan kelas oleh perwakilan siswa, sementara siswa yang lain beserta guru menanggapinya.
Saya menilai pembelajaran
matematika kelas 5 Sekolah Dasar di Jepang ini masih mempunyai kekurangan.
Pembelajaran matematika yang ada dalam video tersebut masih terkesan
tradisional. Apa yang menjadi alasan saya mengatakan bahwa pembelajaran
matematika kelas lima Sekolah Dasar di Jepang pada video tersebut dikatakan tradisional?
Menurut pengamatan saya terhadap video pembelajaran matematika tersebut pada
LKS yang dibagikan guru kepada siswanya masih sebatas kertas lembar soal,
padahal LKS yang benar itu bukan sekedar kumpulan soal untuk dikerjakan oleh
siswanya akan tetapi juga memuat materi yang akan dipelajari oleh siswa. Selain
itu menurut saya dalam pembelajaran matematika kelas lima tersebut masih
berpusat pada guru dan guru mengendalikan pembelajaran tersebut. Menurut
pengamatan saya dalam video tersebut ketika pembelajaran berlangsung guru tidak
memberikan motivasi-motivasi kepada siswanya, padahal motivasi dari guru sangat
penting untuk meningkatkan semangat siswa dalam belajar dan agar siswa tidak mudah
menyerah dan tidak putus asa. Terutama
untuk siswa yang mempunyai kemampuan sedikit dibawah kemampuan temannya atau
pun bagi siswa yang pandai namun semangat belajarnya kurang. Oleh
karena itu pembelajaran matematika kelas lima Sekolah Dasar di Jepang tersebut
menurut saya belum sepenuhnya menerapkan metode pembelajran yang inovatif. Untuk
menilai suatu pembelajaran inovatif apa tidak dapat digunakan 10 kriteria.
Sepuluh kriteria tersebut yaitu RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), LKS
(yang dibuat oleh guru dan bukan sekedar kumpulan soal-soal), apersepsi/
motivasi yang diberikan oleh guru kepada siswanya, variasi media pembelajaran,
variasi metode pembelajaran, variasi interaksi ketika pembelajaran berlangsung,
rantai kognitif (skema pencapaian kompetensi), refleksi siswa, diskusi
kelompok, dan kesimpulan oleh siswa. Ketika dalam suatu pembelajaran sudah
memuat sepuluh kriteria tersebut dengan baik, maka pembelajaran tersebut baru
dapat dikatakan pembelajaran yang inovatif.
Pada dasarnya dalam pembelajaran
guru berfungsi untuk memfasilitasi siswa dan melayani siswanya dalam
pembelajaran. Guru harus mempunyai rasa percaya kepada siswa agar
siswa-siswanya juga percaya kepada guru sehingga terjalin komunikasi yang baik
antara keduanya (guru dengan siswa) dan tercipta kedekatan dan keterbukaan
antara guru dengan siswanya tersebut. Semoga kedepannya pendidikan yang
inovatif dapat terwujud khususnya pendidikan di Negara Indonesia ini. Kita
sebagai guru dan calon guru mempunyai andil besar dalam mencapai perubahan
pendidikan ke arah yang inovatif tersebut. Mari berkarya untuk mencapai
perubahan pendidikan yang lebih baik lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar