Rabu, 27 Februari 2013

REFLEKSI -Artikel Populer Pendidikan Karakter dalam Pendidikan Matematika-


Pendidikan karakter sangatlah penting dalam dunia pendidikan. Pendidikan karakter atau dengan kata lain pendidikan moral hendaknya diterapkan pada anak sejak sedini mungkin karena dengan pendidikan karakter inilah dapat menanamkan moral-moral yang baik pada diri anak sehingga menjadi landasan terbentuknya moral. Jika sejak awal/ sejak dini anak sudah diberi pendidikan karakter contohnya disiplin, jujur, bertanggungjawab, sopan santun, dan lain-lain maka  ketika mereka dewasa perilaku mereka akan tetap terjaga pada moral yang telah melekat sejak mereka masih dini. Usia anak-anak merupakan usia emas untuk ditanamkannya pendidikan karakter. Untuk itu diharapkan sekarang ini dalam pendidikan baik pendidikan formal, informal, maupun non formal hendaknya disisipkan juga pendidikan karakter agar karakter yang sudah ada pada diri anak terus berkembang kearah yang positif. Pendidikan karakter disisipkan pada setiap mata pelajaran tidak hanya pada pendidikan kewarganegaraan saja namun keseluruhan mata pelajaran yang diberikan pada anak didik termasuk matematika. Dalam mata pelajaran matematika yang diberikan kepada peserta didik dapat juga disisipkan pendidikan karakter/ pendidikan moral. Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normative, dan komunikasi spiritual. Untuk itu dalam menerapkan pendidikan karakter pada mata pelajaran matematika hurus benar-benar dilakukan dengan metode yang cocok sesuai dengan peserta didiknya. Semoga pendidikan karakter benar-benar berhasil diterapkan dan dapat membangun moral yang baik sehingga terwujud bangsa yang unggul. Aamiin..

Sabtu, 23 Februari 2013

REFLEKSI -Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 3: Budaya Matematika Menghasilkan Mathematical Intuition-


http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_6933.html

Intuisi matematika itu merupakan subject to cultural forces (budaya bermatematika); dan intuisi matematika sangat penting untuk menghasilkan ide-ide/gagasan matematika. Pengalaman dari peserta didik itulah yang akan memunculkan intuisi pada diri anak itu sendiri. Namun peran guru juga sangat berpengaruh pada intuisi anak didiknya. Jika guru lebih membebaskan anak didik untuk aktif menemukan sendiri pemecahan masalah dalam pembelajaran maka pengalaman anak didik juga akan lebih luas karena mereka lebih bisa mencerna apa yang mereka dapatkan sendiri dan akan lebih lama tersimpan dalam memorinya. Untuk itu diharapkan dalam pembelajaran tidak ada tekanan bagi anak didik dan biarkan mereka mengeksplor pengalaman-pengalaman sendiri tetapi guru juga harus memberikan pengarahan pada peserta didik.

REFLEKSI -Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 2: Intuisi dalam Matematika (2)-



Setelah membaca artikel tersebut, sungguh sangat memprihatinkan pendidikan yang ada di negara ini. Peserta didik nampaknya mulai kehilangan intuisinya karena dalam pembelajaran yang ada guru atau pihak sekolah jauh lebih mengedepankan aspek kognitif peserta didik dan kurang diimbangi dengan aspek psikomotorik dan aspek afektifnya. Kebanyakan yang diinginkan guru atau pihak sekolah hanyalah hasil Ujian Nasional yang memuaskan. Mereka kurang peduli terhadap proses pencapaiannya. Sehingga timbul dari pihak guru untuk mendukung proses yang tidak baik atau dengan kata lain menghalalkan cara yang tidak benar. Padahal proses yang baik itu jauh lebih penting. Ketika hari-hari mendekati Ujian Nasional kebanyakan guru sebanyak mungkin memberikan soal-soal latihan kepada peserta didik agar siswanya mendapatkan nilai yang memuaskan ketika Ujian Nasional namun guru kurang sadar dan kurang memperhatikan kondisi siswanya. Hal seperti itu yang perlu segera diubah, guru hendaknya tidak hanya memperhatikan aspek kognitifnya saja tetapi diimbangi dengan aspek psikomotorik dan aspek afektif peserta didiknya.

REFLEKSI -To Develop Lesson Plan for Secondary Mathematics Teaching (Mengembangkan RPP Untuk PBM Matematika di SMP) -


http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/to-develop-lesson-plan-for-secondary.html

RPP atau lesson plan sangatlah penting dalam pembelajaran. RPP merupakan acuan dan persiapan yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Persiapan tersebut meliputi dua macan yaitu persiapan umum dan persiapan khusus. Pada persiapan khusus inilah yang menghasilkan RPP (lesson plan) dan didalam RPP tersebut terdapat suatu rangkaian acuan yang akan digunakan ketika pembelajaran, yaitu mulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Untuk itu sebagai guru hendaknya bisa membuat RPP (Lesson Plan) yang baik dan benar dan tentunya bisa mengembangkan RPP tersebut. Dengan dikembangkannya RPP tersebut pembelajaran akan lebih terasa memuaskan baik untuk guru maupun untuk siswa dan diharapkan pembelajarannya akan berorientasi pada siswa, mengaktifkan siswanya tidak terpusat pada guru. Hal demikian akan membuat peserta didik senang dan nyaman dalam proses pembelajaran.


REFLEKSI -Identifikasi masalah psokologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika, dan psikologi pembelajaran matematika-



Setelah membaca pertanyaan yang ada mengenai masalah psikologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran matematika memang mempengaruhi psikologi peserta didik. Terlebih lagi bagi siswa yang kurang suka bahkan tidak suka dengan pelajaran matematika. Mereka bisa saja merasa tertekan dan tidak nyaman karena menganggap matematika itu pelajaran yang sulit dan menakutkan. Hal demikian sangat mengganggu mental perkembangan peserta didik. Di sinilah peran sebagai guru sangat diperlukan dalam pembelajaran. Guru harus selalu menciptakan metode yang sekreatif mungkin agar dalam pembelajaran siswa merasa senang dan tidak merasa tertekan. Selain itu guru hendaknya selalu memotivasi peserta didik agar peserta didik tetap semangat dalam pembelajaran dan tidak down. Metode pembelajaran yang menyenangankan akan menghasilkan psikologi yang baik pada peserta didiknya.