Pendidikan karakter
sangatlah penting dalam dunia pendidikan. Pendidikan karakter atau dengan kata
lain pendidikan moral hendaknya diterapkan pada anak sejak sedini mungkin
karena dengan pendidikan karakter inilah dapat menanamkan moral-moral yang baik
pada diri anak sehingga menjadi landasan terbentuknya moral. Jika sejak awal/
sejak dini anak sudah diberi pendidikan karakter contohnya disiplin, jujur,
bertanggungjawab, sopan santun, dan lain-lain maka ketika mereka dewasa perilaku mereka akan
tetap terjaga pada moral yang telah melekat sejak mereka masih dini. Usia anak-anak
merupakan usia emas untuk ditanamkannya pendidikan karakter. Untuk itu diharapkan
sekarang ini dalam pendidikan baik pendidikan formal, informal, maupun non
formal hendaknya disisipkan juga pendidikan karakter agar karakter yang sudah
ada pada diri anak terus berkembang kearah yang positif. Pendidikan karakter
disisipkan pada setiap mata pelajaran tidak hanya pada pendidikan
kewarganegaraan saja namun keseluruhan mata pelajaran yang diberikan pada anak
didik termasuk matematika. Dalam mata pelajaran matematika yang diberikan
kepada peserta didik dapat juga disisipkan pendidikan karakter/ pendidikan
moral. Pengembangan karakter dalam pendidikan matematika dapat
dilaksanakan dengan mengembangkan komunikasi material, komunikasi formal,
komunikasi normative, dan komunikasi spiritual. Untuk itu dalam menerapkan
pendidikan karakter pada mata pelajaran matematika hurus benar-benar dilakukan
dengan metode yang cocok sesuai dengan peserta didiknya. Semoga pendidikan
karakter benar-benar berhasil diterapkan dan dapat membangun moral yang baik
sehingga terwujud bangsa yang unggul. Aamiin..
Rabu, 27 Februari 2013
Sabtu, 23 Februari 2013
REFLEKSI -Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 3: Budaya Matematika Menghasilkan Mathematical Intuition-
http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_6933.html
Intuisi matematika itu merupakan subject to cultural forces (budaya bermatematika); dan intuisi matematika sangat penting untuk menghasilkan ide-ide/gagasan matematika. Pengalaman dari peserta didik itulah yang akan memunculkan intuisi pada diri anak itu sendiri. Namun peran guru juga sangat berpengaruh pada intuisi anak didiknya. Jika guru lebih membebaskan anak didik untuk aktif menemukan sendiri pemecahan masalah dalam pembelajaran maka pengalaman anak didik juga akan lebih luas karena mereka lebih bisa mencerna apa yang mereka dapatkan sendiri dan akan lebih lama tersimpan dalam memorinya. Untuk itu diharapkan dalam pembelajaran tidak ada tekanan bagi anak didik dan biarkan mereka mengeksplor pengalaman-pengalaman sendiri tetapi guru juga harus memberikan pengarahan pada peserta didik.
REFLEKSI -Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 2: Intuisi dalam Matematika (2)-
REFLEKSI -To Develop Lesson Plan for Secondary Mathematics Teaching (Mengembangkan RPP Untuk PBM Matematika di SMP) -
http://powermathematics.blogspot.com/2008/11/to-develop-lesson-plan-for-secondary.html
RPP atau lesson plan sangatlah penting dalam pembelajaran.
RPP merupakan acuan dan persiapan yang digunakan oleh guru dalam proses
pembelajaran. Persiapan tersebut meliputi dua macan yaitu persiapan umum dan
persiapan khusus. Pada persiapan khusus inilah yang menghasilkan RPP (lesson
plan) dan didalam RPP tersebut terdapat suatu rangkaian acuan yang akan
digunakan ketika pembelajaran, yaitu mulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan
inti, dan penutup. Untuk itu sebagai guru hendaknya bisa membuat RPP (Lesson
Plan) yang baik dan benar dan tentunya bisa mengembangkan RPP tersebut. Dengan
dikembangkannya RPP tersebut pembelajaran akan lebih terasa memuaskan baik
untuk guru maupun untuk siswa dan diharapkan pembelajarannya akan berorientasi
pada siswa, mengaktifkan siswanya tidak terpusat pada guru. Hal demikian akan
membuat peserta didik senang dan nyaman dalam proses pembelajaran.
REFLEKSI -Identifikasi masalah psokologi mengajar matematika, psikologi belajar matematika, dan psikologi pembelajaran matematika-
Setelah membaca pertanyaan yang ada mengenai masalah psikologi
mengajar matematika, psikologi belajar matematika dan psikologi pembelajaran
matematika memang mempengaruhi psikologi peserta didik. Terlebih lagi bagi
siswa yang kurang suka bahkan tidak suka dengan pelajaran matematika. Mereka bisa
saja merasa tertekan dan tidak nyaman karena menganggap matematika itu
pelajaran yang sulit dan menakutkan. Hal demikian sangat mengganggu mental
perkembangan peserta didik. Di sinilah peran sebagai guru sangat diperlukan
dalam pembelajaran. Guru harus selalu menciptakan metode yang sekreatif mungkin
agar dalam pembelajaran siswa merasa senang dan tidak merasa tertekan. Selain itu
guru hendaknya selalu memotivasi peserta didik agar peserta didik tetap
semangat dalam pembelajaran dan tidak down. Metode pembelajaran yang
menyenangankan akan menghasilkan psikologi yang baik pada peserta didiknya.
Langganan:
Komentar (Atom)