Sabtu, 09 Maret 2013

PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS 2 SEKOLAH DASAR DI JEPANG


Berdasarkan video pembelajaran matematika kelas 2 SD di Jepang yang telah saya lihat ketika perkuliahan matematika pada hari Kamis, 7 Maret 2013, saya sangat tertarik pada pembelajaran matematika khususnya kelas 2 SD di Jepang. Di Jepang dalam satu ruang kelas terdiri dari dua guru yang saling berkolaborasi ketika pembelajaran berlangsung. Kedua guru tersebut saling bersinergi untuk membimbing dan mengarahkan siswanya ketika pembelajaran.
 Sebelum pembelajaran, guru harus sudah melakukan persiapan, baik persiapan umum maupun persiapan khusus. Pembelajaran perlu diawali dengan apersepsi, dimana apersepsi tersebut akan membantu dalam membentuk pola pikir siswa. Guru memberikan sedikit penjelasan sebagai pengantar pembelajaran dan untuk meluruskan konsep terhadap apa yang akan mereka pelajari namun tetap memberi kesempatan kepada siswa untuk berbicara mengemukakan pendapat mereka, kemudian siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok dan guru memberikan LKS. Siswa dapat berdiskusi karena adanya sumber yang diberikan oleh guru salah satunya adalah LKS tersebut. LKS dibuat sendiri oleh gurunya dan fungsinya tidak hanya sesempit sebagai kumpulan soal-soal akan tetapi dengan adanya LKS dapat pula menemukan informsi-informasi dan penemuan-penemuan lainnya yang sifatnya terbimbing. Guru berperan sebagai fasilitator/ pendamping dalam diskusi tersebut. Ketika siswa sedang berdiskusi, guru memberi arahan/ bimbingan kepada siswa satu persatu dalam kelompok kecil yang telah dibuat, tidak terpaku pada satu siswa tetapi kepada seluruh siswanya, sehingga siswa lebih paham terhadap apa yang mereka pelajari. Sesekali guru memberikan motivasi terhadap siswa-siswanya agar mereka tetap bersemangat dan tidak putus asa. Kedua guru juga saling berdiskusi dalam mengarahkan peserta didiknya tersebut. Siswa diberi kesempatan untuk mengeksplor kemampuannya sendiri dengan menganalisis persoalan dalam diskusi tersebut dan siswa menyampaikan hasil diskusinya didepan kelas. Ketika menyampaikan hasil diskusinya siswa berbicara dan guru membantu menuliskan apa yang siswa diskusikan di depan kelas. Dengan cara seperti itu maka siswa-siswa SD di Jepang khususnya kelas 2 sudah berani mempresentasikan hasil diskusinya/ menyampaikan ide/ gagasan dan pendapat mereka di depan kelas tanpa rasa takut karena mereka sudah dilatih untuk percaya diri, mengembangkan rasa percaya dirinya tersebut, dan dilatih pula mengembangkan kepekaan intuisi mereka. Diakhir pembelajaran siswa bersama-sama dengan guru menyimpulkan apa yang mereka pelajari.
Mereka tidak takut dengan gurunya tetapi hormat pada gurunya bukan hormat pada guru karena takut. Ketika siswa menyampaikan jawaban yang kurang tepat guru tidak menyalahkannya akan tetapi menuntun dan membimbing mereka untuk menemukan kembali jawaban yang lebih tepat dan tetap siswa yang menemukan jawabannya sendiri sehingga mudah bagi siswa untuk menguasai, menyimpan apa yang mereka dapatkan sendiri dan mudah dalam mengingatnya karena mereka membangun konsep itu sendiri tidak hanya menerima konsep saja. Namun disisi lain peran guru tetap terlibat dalam mengarahkan siswa ketika pembelajaran. Hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran matematika SD di Jepang berorientasi kepada siswa, tidak berpusat pada guru, dan guru member kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan sendiri potensi-potensi mereka sehingga siswa lebih berkembang, mandiri, dan kreatif. Keaktifan siswa dalam pembelajaran sangat tinggi. Ketika ada siswa yang menyampaikan hasil diskusinya didepan kelas maka siswa yang lain beserta guru menanggapinya dan jika pendapatnya berbeda dengan temannya mereka berani untuk menyampaikan pendapatnya di depan teman-temannya. Disitulah harus terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik dari semua pihak baik guru dengan guru, siswa dengan siswa maupun guru dengan siswa. Guru harus bisa memahami setiap siswanya karena setiap siswa mempunyai karakteristik, dan potensi yang berbeda-beda.
            Kesimpulannya, dalam pembelajaran matematika SD di Jepang khususnya kelas 2, siswa diposisikan sebagai subjek pembelajaran bukan sebagai objek pembelajaran. Metode pembelajaran yang diterapkan menggunakan metode pembelajaran yang inovatif salah satunya yaitu metode diskusi sehingga tidak hanya gurunya saja yang aktif akan tetapi siswa dan gurunya sama-sama aktif dalam pembelajaran. Rasa ingin tahu dan minat belajar siswa Jepang sangat tinggi terbukti dengan keaktifan mereka ketika dalam pembelajaran di kelas. Pembelajaran matematika di Jepang sudah menerapkan apa yang menjadi hakikat matematika sekolah yaitu kegiatan mencari pola dan hubungan, pemecahan masalah, investigasi, dan komunikasi yang baik antara pihak-pihak yang bersangkutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar