Dalam pembelajaran matematika terdapat 4 tingkatan
yaitu matematika konkret sebagai dasarnya, matematika formal, normatif, dan
yang paling tinggi adalah spiritual. Dengan kata lain bahwa setinggi-tinggi
pekerjaan adalah yang bernilai ibadah. Menurut Bapak Marsigit, saringan pola
pikir di dunia ini ada dua, yaitu mubeng
dan lempeng. Kedua kata ini berasal
dari bahasa Jawa, mubeng (lingkaran)
artinya bahwa kehidupan di dunia ini terus berputar, sekarang bertemu dengan
pagi hari, siang hari, malam hari, maka Insya Alloh besok pun akan bertemu
kembali. Sedangkan lempeng (lurus)
berarti bahwa waktu di dunia ini tidak dapat kembali dan akan terus maju. Jika
lingkaran itu ditarik maka jadilah spiral. Di setiap spiral ada tiga komponen
yaitu rutin, mendetail, dan membesar. Seperti inilah yang disebut dengan
hermenitika kehidupan. Dalam metode hermenitika pembelajaran harus dapat saling
menerjemahkan dan diterjemahkan. Contohnya guru menerjemahkan siswa, siswa
menerjemahkan matematika, dan lain sebagainya.
Dalam pembelajaran matematika perlu adanya
kombinasi antara logika dan pengalaman. Matematika
dikatakan sebagai ilmu jika memiliki sifat sintetik a priori yaitu gabungan
antara pikiran/ logika dengan pengalaman. Logika/ pikiran bersifat a piori,
bisa memikirkan apa yang belum terjadi. Sedangkan pengalaman bersifat a
posteriori, bisa memikirkan karena sudah terjadi.
Sebagai guru hendaknya harus kreatif dan
inovatif. Kreatif dalam mengemas pembelajaran agar siswa tidak jenuh dan juga
inovatif dalam pembelajaran. Siswa dijadikan subjek pembelajaran dan siswa diberi
kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan benda-benda konkret yang
ada dilingkupnya agar dapat mengembangkan pola pikir dan ide serta gagasannya
sehingga dapat menemukan sendiri rumus yang akan mereka pelajari. Dengan proses
yang dialami siswa secara langsung tersebut, siswa akan merasa lebih mudah
dalam mengingat dan mengimplementasikannya dalam kehidupan siswa karena pada
dasarnya matematika anak kecil itu adalah konkret. Apa yang mereka pelajari
dalam pembelajaran
matematika hendaknya disesuaikan dengan kehidupan yang dialami oleh siswa
tersebut. Maka dari itu guru dan calon guru harus latihan dan mencoba membuat
simulasi mengenai mata pelajaran yang bersangkutan. Materi pelajaran hendaknya
dipahami bukan sekedar dihafalkan karena hakikat matematika sekolah ialah
kegiatan mencari pola, menemukan pemecahan masalah, melakukan investigasi, dan
komunikasi. Apabila pembelajaran
matematika dilakukan melalui proses/ cara/ tahapan yang benar dan menyenangkan
bagi peserta didik maka hal tersebut tidak akan membawa bencana pada diri anak.
Akan tetapi jika matematika dibawa pada anak kecil sementara anak tersebut
tidak siap maka hal tersebut akan menimbulkan bencana pada diri anak.
Disisi
lain dukungan dari pihak orang tua sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran.
Seperti halnya sekolah di Australia, orang tua si murid datang ke sekolah untuk
membantu dalam pembelajaran anaknya di sekolah sehingga orang tua siswa juga
mengetahui perkembangan anaknya ketika belajar di sekolah. Proses pembelajaran
sekolah di Australia juga sudah inovatif. Di sana interaksi antara siswa dengan
guru sangat baik dan proses pembelajarannya kreatif, metode pembelajarannya
sangat variatif, pembelajaran dilakukan di indoor dan outdoor sehingga tidak
monoton dan siswapun merasa senang.
Semoga
pendidikan di Indonesia kedepannya menjadi lebih baik dan hal positif yang
diterapkan dalam pembelajaran sekolah di Australia dapat diadopsi pada
pembelajaran sekolah di Indonesia, salah satunya pembelajaran yang inovatif dan
pihak sekolah mengizinkan orang tua dari peserta didik untuk datang ke sekolah
guna untuk membantu dan memantau perkembangan anaknya dalam belajar, sehingga
tercipta keterbukaan antara pihak sekolah/ guru dengan orang tua peserta didik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar