Selasa, 19 Maret 2013

PEMBELAJARAN MATEMATIKA YANG SELAMA INI KITA HARAPKAN (Refleksi Perkuliahan Matematika Tanggal 14 Maret 2013 Bersama Bpk Marsigit)



Dalam pembelajaran matematika terdapat 4 tingkatan yaitu matematika konkret sebagai dasarnya, matematika formal, normatif, dan yang paling tinggi adalah spiritual. Dengan kata lain bahwa setinggi-tinggi pekerjaan adalah yang bernilai ibadah. Menurut Bapak Marsigit, saringan pola pikir di dunia ini ada dua, yaitu mubeng dan lempeng. Kedua kata ini berasal dari bahasa Jawa, mubeng (lingkaran) artinya bahwa kehidupan di dunia ini terus berputar, sekarang bertemu dengan pagi hari, siang hari, malam hari, maka Insya Alloh besok pun akan bertemu kembali. Sedangkan lempeng (lurus) berarti bahwa waktu di dunia ini tidak dapat kembali dan akan terus maju. Jika lingkaran itu ditarik maka jadilah spiral. Di setiap spiral ada tiga komponen yaitu rutin, mendetail, dan membesar. Seperti inilah yang disebut dengan hermenitika kehidupan. Dalam metode hermenitika pembelajaran harus dapat saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Contohnya guru menerjemahkan siswa, siswa menerjemahkan matematika, dan lain sebagainya.
Dalam pembelajaran matematika perlu adanya kombinasi antara logika dan pengalaman. Matematika dikatakan sebagai ilmu jika memiliki sifat sintetik a priori yaitu gabungan antara pikiran/ logika dengan pengalaman. Logika/ pikiran bersifat a piori, bisa memikirkan apa yang belum terjadi. Sedangkan pengalaman bersifat a posteriori, bisa memikirkan karena sudah terjadi.
Sebagai guru hendaknya harus kreatif dan inovatif. Kreatif dalam mengemas pembelajaran agar siswa tidak jenuh dan juga inovatif dalam pembelajaran. Siswa dijadikan subjek pembelajaran dan siswa diberi kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan benda-benda konkret yang ada dilingkupnya agar dapat mengembangkan pola pikir dan ide serta gagasannya sehingga dapat menemukan sendiri rumus yang akan mereka pelajari. Dengan proses yang dialami siswa secara langsung tersebut, siswa akan merasa lebih mudah dalam mengingat dan mengimplementasikannya dalam kehidupan siswa karena pada dasarnya matematika anak kecil itu adalah konkret. Apa yang mereka pelajari dalam pembelajaran matematika hendaknya disesuaikan dengan kehidupan yang dialami oleh siswa tersebut. Maka dari itu guru dan calon guru harus latihan dan mencoba membuat simulasi mengenai mata pelajaran yang bersangkutan. Materi pelajaran hendaknya dipahami bukan sekedar dihafalkan karena hakikat matematika sekolah ialah kegiatan mencari pola, menemukan pemecahan masalah, melakukan investigasi, dan komunikasi. Apabila pembelajaran matematika dilakukan melalui proses/ cara/ tahapan yang benar dan menyenangkan bagi peserta didik maka hal tersebut tidak akan membawa bencana pada diri anak. Akan tetapi jika matematika dibawa pada anak kecil sementara anak tersebut tidak siap maka hal tersebut akan menimbulkan bencana pada diri anak.
Disisi lain dukungan dari pihak orang tua sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Seperti halnya sekolah di Australia, orang tua si murid datang ke sekolah untuk membantu dalam pembelajaran anaknya di sekolah sehingga orang tua siswa juga mengetahui perkembangan anaknya ketika belajar di sekolah. Proses pembelajaran sekolah di Australia juga sudah inovatif. Di sana interaksi antara siswa dengan guru sangat baik dan proses pembelajarannya kreatif, metode pembelajarannya sangat variatif, pembelajaran dilakukan di indoor dan outdoor sehingga tidak monoton dan siswapun merasa senang.
Semoga pendidikan di Indonesia kedepannya menjadi lebih baik dan hal positif yang diterapkan dalam pembelajaran sekolah di Australia dapat diadopsi pada pembelajaran sekolah di Indonesia, salah satunya pembelajaran yang inovatif dan pihak sekolah mengizinkan orang tua dari peserta didik untuk datang ke sekolah guna untuk membantu dan memantau perkembangan anaknya dalam belajar, sehingga tercipta keterbukaan antara pihak sekolah/ guru dengan orang tua peserta didik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar