PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
Dalam matematika murni/ matematika
formal/ matematika aksiomatik terdapat dua metode cara berpikir, yaitu metode
deduksi dan metode induksi. Metode deduksi dalam kehidupan sehari-hari
merupakan metode yang alami/ sunnatullah. Prosesnya dari ketentuan umum menuju
kekhusus dalam rangka memahami suatu persoalan atau permasalahan. Sedangkan
metode induksi prosesnya dikembangkan menurut ketentuan khusus menuju keumum
dalam rangka menyimpulkan suatu peristiwa yang kecil-kecil/ khusus menuju keumum.
Keduanya hendaknya saling bersinergis dalam suatu tempat, ruang, dan waktu
untuk menggunakan metode deduksikah atau induksikah. Misalnya dalam pemahaman
bangun ruang. Mengamati ruang dahulu baru mengamati bidangnya, garisnya,
sisi-sisinya dan seterusnya. Dalam kehidupan sehari-hari penggunaannya secara
dinamis. Dalam pembelajaran geometri digunakan metode deduktif sedangkan untuk
siswa menemukan pola digunakan metode induktif, menemukan rumus-rumus terlebih
dahulu sehingga dapat memahami contoh-contohnya.
Ketika pembelajaran berlangsung
sangatlah penting adanya sopan santun. Setinggi-tinggi ilmu adalah sopan
santun. Sebagai seorang anak hendaknya berperilaku sopan santun terhadap orang
tua, guru, dan orang lain, terlebih sopan santun kepada Tuhan/ agama yang
dianut masing-masing. Demikian juga seorang guru juga harus mempunyai sopan
santun. Sopan santun terhadap siswanya, mata pelajarannya, metode
pembelajarannya, dan lain sebagainya agar tercipta pembelajaran yang efektif.
Salah satunya dapat diwujudkan dengan guru memberi kesempatan pada siswa untuk berdiskusi
(diskusi dalam pembelajaran atas perintah guru tersebut). Ketika guru ingin
berbicara dengan salah satu kelompok/ salah satu individu jangan sampai
terdengar oleh kelompok lain/ individu lainnya dan hendaknya seperlunya dan
sewajarnya saja.
Setiap siswa mempunyai
karakteristik dan sifat yang berbeda-beda serta kemampuan yang berbeda-beda
pula. Ada siswa yang kemampuannya dapat dikatakan tinggi, namun ada pula yang
memiliki kemampuan yang kurang tinggi. Sehingga guru harus bertindak sekreatif
mungkin untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif. Guru tidak pada tempatnya
menyalahkan siswa apapun keadaan siswa tersebut. Tantangan sebagai seorang guru
dalam proses pembelajaran yaitu mampu memberi motivasi kepada siswanya untuk
sadar dan selalu berikhtiar dan guru hendaknya mampu menciptakan/ berpindah
dari metode pembelajaran yang tradisional menuju ke metode pembelajaran yang
inovatif. Pembelajaran inovatif tidak menceramahi siswanya akan tetapi pembelajaran
dilakukan dengan variasi berbagai metode pembelajaran, diantaranya pembelajaran
secara online, diskusi yang variatif dan menyenangkan, latihan, kerja praktik/
laboratorium, refleksi baik di kelas maupun dirumah, dan sebagainya. Persoalan
pembelajaran matematika siswa ada pada gurunya. Terkadang guru terlalu
tergesa-gesa dalam penyampaiannya, belum terbiasa menggunakan metode yang baru,
belum tepat/ belum sesuai dengan metode yang seharusnya diterapkan, belum
mengerti akan indikator-indikator metode yang inovatif, dan sebagainya.
Kesalahan yang tidak disadari oleh guru yaitu memberi siswa soal-soal secara
berlebihan ketika menjelang Ujian Nasional agar siswanya mendapatkan nilai
Ujian Nasional yang tinggi tanpa memperhatikan prosesnya. Hal seperti itu
menunjukkan bahwa guru mulai kehilangan intuisinya.
Intuisi merupakan pemahaman/
pengetahuan yang tidak dapat dijelaskan dan tidak dapat didefinisikan, baik
kapan dan dimana terjadinya, maupun seperti apa wujudnya. Dalam kegiatan
pembelajaran, intuisi memiliki peran yang sangat penting. Orang yang bingung
dapat dikatakan kehilangan intuisinya. Intuisi yang dalam istilah awam sering
disebut ilham mampu mendorong seseorang untuk menghasilkan ide/ gagasan.
Intuisi dari tingkat yang terendah ke tingkat yang tertinggi antara lain:
1. Tindakan
2. Kata-kata/ tulisan
3. Pikiran
Tindakan benar maka intuisi benar. Berkata-kata baik
maka intuisi akan baik, dan berpikir baik maka intuisi akan baik pula.
Secanggih-canggihnya sehebat-hebatnya kata-kata dan tulisan tidak akan mampu
mengalahkan pikiran.
Perlu diingat, intuisi tidak hanya
milik anak kecil saja. Orang tua juga memerlukan intuisi, mencari dan
mengembangkannya. Untuk anak-anak intuisi tidak perlu didefinisikan akan tetapi
penyampaiannya cukup dengan memberikan contoh-contoh saja. Intuisi ada
bermacam-macam, ada intuisi ruang, intuisi waktu, kebendaan, jarak, kedalaman,
dan lain sebagainya. Dalam inovasi pembelajaran, intuisi yang paling
memprihatinkan karena guru-guru yang ada sekarang ini mulai kehilangan
intuisinya. Oleh karenanya perlu diperbaiki dan dikembangkan metode
pembelajaran yang inovatif agar siswa tidak kehilangan intuisinya. Biarkan
siswa menemukan dan mengemukakan ide atau gagasannya sendiri. Intuisi dapat diperoleh
melalui pergaulan atau pengalaman/ experience,
interaksi dengan keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lain-lain.
Dalam
matematika realistik terdapat 4 tingkatan, biasanya digambarkan dengan model
piramida. Paling puncak adalah matematika formal, dibawahnya ada model formal,
model konkret, dan yang paling dasar adalah matematika konkret. Sedangkan
metode berpikir antara lain; hakikatnya, cara/ metodenya, dan etikanya.
Ketiganya berlaku untuk umum dan untuk semuanya. Matematika dikatakan sebagai ilmu jika memiliki sifat sintetik a priori
yaitu gabungan antara pikiran/ logika dengan pengalaman. Logika/ pikiran
bersifat a piori, bisa memikirkan apa yang belum terjadi. Sedangkan pengalaman
bersifat a posteriori, bisa memikirkan karena sudah terjadi.
Semoga guru-guru yang ada bisa menjadi guru-guru
yang benar-benar hakiki sehingga pembelajarannya dan siswanya akan hakiki pula
dan tercita pembelajaran yang benar-benar inovatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar