Sabtu, 09 Maret 2013

Refleksi Perkuliahan Matematika 28 Februari 2013 bersama Bapak Marsigit


PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Dalam matematika murni/ matematika formal/ matematika aksiomatik terdapat dua metode cara berpikir, yaitu metode deduksi dan metode induksi. Metode deduksi dalam kehidupan sehari-hari merupakan metode yang alami/ sunnatullah. Prosesnya dari ketentuan umum menuju kekhusus dalam rangka memahami suatu persoalan atau permasalahan. Sedangkan metode induksi prosesnya dikembangkan menurut ketentuan khusus menuju keumum dalam rangka menyimpulkan suatu peristiwa yang kecil-kecil/ khusus menuju keumum. Keduanya hendaknya saling bersinergis dalam suatu tempat, ruang, dan waktu untuk menggunakan metode deduksikah atau induksikah. Misalnya dalam pemahaman bangun ruang. Mengamati ruang dahulu baru mengamati bidangnya, garisnya, sisi-sisinya dan seterusnya. Dalam kehidupan sehari-hari penggunaannya secara dinamis. Dalam pembelajaran geometri digunakan metode deduktif sedangkan untuk siswa menemukan pola digunakan metode induktif, menemukan rumus-rumus terlebih dahulu sehingga dapat memahami contoh-contohnya.
Ketika pembelajaran berlangsung sangatlah penting adanya sopan santun. Setinggi-tinggi ilmu adalah sopan santun. Sebagai seorang anak hendaknya berperilaku sopan santun terhadap orang tua, guru, dan orang lain, terlebih sopan santun kepada Tuhan/ agama yang dianut masing-masing. Demikian juga seorang guru juga harus mempunyai sopan santun. Sopan santun terhadap siswanya, mata pelajarannya, metode pembelajarannya, dan lain sebagainya agar tercipta pembelajaran yang efektif. Salah satunya dapat diwujudkan dengan guru memberi kesempatan pada siswa untuk berdiskusi (diskusi dalam pembelajaran atas perintah guru tersebut). Ketika guru ingin berbicara dengan salah satu kelompok/ salah satu individu jangan sampai terdengar oleh kelompok lain/ individu lainnya dan hendaknya seperlunya dan sewajarnya saja.
Setiap siswa mempunyai karakteristik dan sifat yang berbeda-beda serta kemampuan yang berbeda-beda pula. Ada siswa yang kemampuannya dapat dikatakan tinggi, namun ada pula yang memiliki kemampuan yang kurang tinggi. Sehingga guru harus bertindak sekreatif mungkin untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif. Guru tidak pada tempatnya menyalahkan siswa apapun keadaan siswa tersebut. Tantangan sebagai seorang guru dalam proses pembelajaran yaitu mampu memberi motivasi kepada siswanya untuk sadar dan selalu berikhtiar dan guru hendaknya mampu menciptakan/ berpindah dari metode pembelajaran yang tradisional menuju ke metode pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran inovatif tidak menceramahi siswanya akan tetapi pembelajaran dilakukan dengan variasi berbagai metode pembelajaran, diantaranya pembelajaran secara online, diskusi yang variatif dan menyenangkan, latihan, kerja praktik/ laboratorium, refleksi baik di kelas maupun dirumah, dan sebagainya. Persoalan pembelajaran matematika siswa ada pada gurunya. Terkadang guru terlalu tergesa-gesa dalam penyampaiannya, belum terbiasa menggunakan metode yang baru, belum tepat/ belum sesuai dengan metode yang seharusnya diterapkan, belum mengerti akan indikator-indikator metode yang inovatif, dan sebagainya. Kesalahan yang tidak disadari oleh guru yaitu memberi siswa soal-soal secara berlebihan ketika menjelang Ujian Nasional agar siswanya mendapatkan nilai Ujian Nasional yang tinggi tanpa memperhatikan prosesnya. Hal seperti itu menunjukkan bahwa guru mulai kehilangan intuisinya.
Intuisi merupakan pemahaman/ pengetahuan yang tidak dapat dijelaskan dan tidak dapat didefinisikan, baik kapan dan dimana terjadinya, maupun seperti apa wujudnya. Dalam kegiatan pembelajaran, intuisi memiliki peran yang sangat penting. Orang yang bingung dapat dikatakan kehilangan intuisinya. Intuisi yang dalam istilah awam sering disebut ilham mampu mendorong seseorang untuk menghasilkan ide/ gagasan. Intuisi dari tingkat yang terendah ke tingkat yang tertinggi antara lain:
1.    Tindakan
2.    Kata-kata/ tulisan
3.    Pikiran
Tindakan benar maka intuisi benar. Berkata-kata baik maka intuisi akan baik, dan berpikir baik maka intuisi akan baik pula. Secanggih-canggihnya sehebat-hebatnya kata-kata dan tulisan tidak akan mampu mengalahkan pikiran.
Perlu diingat, intuisi tidak hanya milik anak kecil saja. Orang tua juga memerlukan intuisi, mencari dan mengembangkannya. Untuk anak-anak intuisi tidak perlu didefinisikan akan tetapi penyampaiannya cukup dengan memberikan contoh-contoh saja. Intuisi ada bermacam-macam, ada intuisi ruang, intuisi waktu, kebendaan, jarak, kedalaman, dan lain sebagainya. Dalam inovasi pembelajaran, intuisi yang paling memprihatinkan karena guru-guru yang ada sekarang ini mulai kehilangan intuisinya. Oleh karenanya perlu diperbaiki dan dikembangkan metode pembelajaran yang inovatif agar siswa tidak kehilangan intuisinya. Biarkan siswa menemukan dan mengemukakan ide atau gagasannya sendiri. Intuisi dapat diperoleh melalui pergaulan atau pengalaman/ experience, interaksi dengan keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lain-lain.
            Dalam matematika realistik terdapat 4 tingkatan, biasanya digambarkan dengan model piramida. Paling puncak adalah matematika formal, dibawahnya ada model formal, model konkret, dan yang paling dasar adalah matematika konkret. Sedangkan metode berpikir antara lain; hakikatnya, cara/ metodenya, dan etikanya. Ketiganya berlaku untuk umum dan untuk semuanya. Matematika dikatakan sebagai ilmu jika memiliki sifat sintetik a priori yaitu gabungan antara pikiran/ logika dengan pengalaman. Logika/ pikiran bersifat a piori, bisa memikirkan apa yang belum terjadi. Sedangkan pengalaman bersifat a posteriori, bisa memikirkan karena sudah terjadi.
Semoga guru-guru yang ada bisa menjadi guru-guru yang benar-benar hakiki sehingga pembelajarannya dan siswanya akan hakiki pula dan tercita pembelajaran yang benar-benar inovatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar