Jumat, 01 Maret 2013

REFLEKSI -“Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)”-





Dalam artikel “Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 10: Architectonic Mathematics (2)” telah disebutkan bahwa matematika itu tidak lain tidak bukan adalah pikiran siswa itu sendiri. Hal ini diibaratkan seperti halnya seorang arsitek yang membangun gedung. Jadi sangat jelas sekali bahwa siswa-siswa adalah arsitek bagi dirinya sendiri dalam membangun bangunan matematika di dalam pikirannya. Ada dua asumsi dasar agar siswa memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika. Kedua konsep tersebut antara lain siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika atau penalarannya; dan siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Menurut pendapat dari Immanuel Kant logika atau penalaran bersifat analitik a priori, sedangkan pengamatan fenomena matematika menghasilkan konsep matematika yang bersifat sintetik a posteriori dan pertemuan keduanya menghasilkan pemahaman dan bangunan matematika yang bersifat sintetik apriori. Matematika bisa menjadi ilmu maka dia haruslah bersifat sintetik a piori yaitu gabungan antara logika atau penalaran dengan pengamatan oleh siswa itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar